30 November 2008

Paradoksnya Kini

mutakhir
para pemikir kritis resah,
memandang awan gelap berarak
masuk memayung wilayah
kesefahaman bangsa harum semerbak,
awan gelap yang membawa ribut,
ribut yang meniup segala wangian,
wangi hilang dihembus pergi,
jadi mati harumnya mati.

sejahteralah wilayah ini,
wilayah kesepakatan bangsa,
sentosalah tanah subur ini,
subur sepanjang masa.

sepuluh jari disusun rapat,
dirapat erat telapak tangan,
syahdu doa dipanjat
memohon-Nya menghujankan berkat,
berkat aman sepanjang zaman.
- tercetus dari situasi alam politik negara kini.

Tiada ulasan:

rákan-rákan